Kobar Kongkow Bareng Ansor Margorejo

Bersama KH Imam AlMukromin MWC NU Margorejo dan Itqonul Hakim Ketua PC GP ANSOR PATI.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 01 Oktober 2018

Ketika Ansor-Banser di Bully HTI



Pemerintah Indonesia telah resmi membubarkan Hizbut Tahir Indonesia (HTI) seiring dengan pencabutan status badan hukum ormas tersebut oleh Kementerian Hukum dan HAM pada Rabu (19/08) lantaran dianggap bertentangan dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945.

Gerakan Pemuda (GP) Ansor mendukung penuh pembubaran HTI karena dinilai bertentangan dengan ideologi pancasila. Boleh berserikat dan berkumpul tapi harus sesuai dengan dasar negara dan setia pada NKRI.

GP Ansor terus melakukan pengawalan keputusan pemerintah dengan segala konsekuensinya, sekaligus berupaya bahwa ormas HTI tidak hanya bubar secara organisatoris, melainkan juga berhenti melakukan propaganda perpecahan NKRI dengan agenda khilafah internasionalnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor H. Yaqut Cholil Qoumas juga pernah menyerukan agar anggota GP Ansor tidak memusuhi eks anggota HTI. Gus Yaqut ingin agar Ansor dan Banser bisa merangkul eks HTI untuk bersama-sama ikut membangun negara. Gus Yaqut berpendapat demikian karena menganggap kalau eks HTI adalah saudara seiman, sehingga tidak boleh dimusuhi apalagi dikucilkan.

Namun demikian, dalam proses pengawalan mengajak untuk kembali bersama2 membangun negara, tidak melakukan propaganda perpecahan NKRI dengan agenda khilafah, GP Ansor tidak jarang mendapatkan hujatan, cemoohan, bahkan fitnah.

Kader GP Ansor, selain dibekali pengetahuan tentang Agama, juga dibekali pengetahuan untuk membaca yang “tak tampak”, dari sebuah gerakan yang bisa membahayakan negara. Kader tidak gampang diprovokasi, tidak mudah dibohongi, apalagi dengan permainan simbol-simbol keagamaan yang sering digunakan HTI selama ini.

Banyaknya tuduhan dan fitnah yang ditujukan kepada GP Ansor, seperti isu bayaran bahwa Ansor Banser dibayar Rp 50 juta untuk penjagaan di gereja pada malam natal dan tahun baru, soal tuduhan tersebut Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) telah membuat klarifikasi dan membantah terhadap tuduhan yang diberitakan kepada Gerakan Pemuda (GP) Ansor.

Gara-gara mencegah adanya simbol HTI warna hitam bertuliskan kalimat tauhid, akhirnya ada juga yang menyebarkan foto keranda, bendera atau apapun meski warnanya tidak hitam yang terdapat kalimah tauhidnya kemudian disertai narasi, “Bangke Modar” dengan narasi “Keranda Jenazah Khusus Anggota Banser”, ada juga Keranda Bertuliskan “Awas, kain keranda ada kalimah tauhidnya, hati-hati ketemu Banser bisa dipersekusi” dan masih banyak yang lainnya.

Disatu sisi, jika dinilai mereka itu membawa gerakan HTI bilangnya itu kalimat tauhid, tapi disi lain sebagian besar dari mereka tetap anti NKRI anti dengan bendera merah putih. Bisa kita lihat pada saat HUT Kemerdekaam RI kemarin mereka tidak ikut menghormati bendera merah putih, tidak ikut mengibarkan bendera merah putih didepan rumahnya, misalkan. Padahal mereka hidup, bernafas menghirup udara, mereka makan dan minum menikmati kekayaan NKRI.

Bukan kalimat tauhidnya yang dipersoalkan oleh GP Ansor, tapi nilai dari simbol HTI dan propaganda perpecahan NKRI dengan agenda khilafah. Dan hanya orang-orang yang mempunyai kecerdasan yang mampu membaca kepentingan apa yang “tak tampak” dan bersembunyi dibalik simbol HTI. Apalagi kalau hanya mempersoalkan keberadaan UAS (Ustadz Abdul Somad), justru GP Ansor melindunginya dan jamaah pengajiannya dari agenda HTI.

Soal kebesaran kalimat Tahid, tidak perlu meragukan GP ansor. GP Ansor tidak hanya menghormati kalimat tauhid tapi juga terus memperjuangkan makna dan kandungannya dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam kalimah tauhid terdapat nilai-nilai ajaran yang luhur, seperti Rahmatan lil ‘alamin, pentingnya mencinta tanah air, toleransi, menjaga kerukunan, dan masih banyak yang lainnya. Bukan seperti makna atau kepentingan yang terdapat pada simbol HTI. Meskipun HTI termasuk ISIS menggunakan bendera bertuliskan kalimah tauhid, tetapi mereka mengkhianati makna yang terkandung dalam kalimat tauhid yang sebenarnya.

Banyak musuh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang iri dan ingin menghancurkan negeri ini. Sama halnya juga yang dialami NU dan Banomnya GP Ansor saat ini banyak musuh yang ingin menghancurkan jam'iyyah yang didirikan para ulama Nusantara ini.

GP. Ansor menjadi bagian dari yang turut memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sudah selayaknya mempunyai semangat menjadi garda terdepan untuk mempertahankan, menjaga dari apapun yang berpotensi menghancurkannya, termasuk orang-orang yang mulai mengaku NU dengan tujuan menghancurkan NU, dan orang-orang yang bekerja untuk membodohi rakyat agar ikut menghancurkan NKRI dengan provokasi menggunakan simbol-simbol agama. Sebagai garda terdepan mengawal NKRI dan NU, GP Ansor wajib untuk andil berkhidmat menjaga negeri ini dan ulamanya.

Kami menyadari sepenuhnya, apapun penjelasan dari kami tidak akan mudah diterima oleh orang-orang yang jelas-jelas mempunyai agenda untuk menghancurkan NKRI termasuk orang-orang dengan keterbatasan pemahaman yang sudah berhasil mereka provokasi. Kita doakan saja semoga Gusti Allah segera memberikan Hidayah kepada mereka. Aamiin.

Minggu, 30 September 2018

Ansor, Generasi Now, Ulama, dan Pancasila


Mata perempuan tua yang kurus itu berkaca. Dua telapak tangannya menyatu depan wajah sebagai ungkapan terima kasih pada anak-anak muda yang mengantar sembako ke gubuknya yang jauh dari kegaduhan media sosial (medsos) yang belakangan ini cukup sepi dari penegasan Islam sebagai deen assalam (agama perdamaian) di negara berideologi Pancasila (Khomsatul Asasiyah).
Anak-anak muda berseragam hijau dan loreng bukan hasil subsidi pemerintah itu melaksanakan sila kedua dalam Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, sejalan dengan Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 135. Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan. Suatu sistem kehidupan yang menurut cendekiawan muslim Muhammad Quraish Shihab dalam tafsirnya, tidak bisa dipertentangkan lagi. 
“Walau tak banyak, bantuan-bantuan kami salurkan tersebut dihasilkan dari uang pribadi anggota Ansor, Banser, dan Denwatser Tugu Mulyo sebagai wujud kepedulian sosial bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Yossie Septiana Mardiansyah.
Warga Desa Widodo, Kecamatan Tugu Mulyo, Kabupaten Musirawas, Provinsi Sumatera Selatan itu bergabung dengan Detasemen Wanita Banser (Denwatser) pada awal Mei 2018 saat Diklat Terpadu Dasar ( DTD) digelar PAC Ansor Bolang Tengah Suku (BTS) Ulu, di Desa Sukamakmur.
Alumni SMAN 2 Sarolangun, Jambi, 2015 itu menyebut, bergabung dengan organisasi yang saat ini dipimpin H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) rasanya seperti brotowali dan madu. Pahit dan manis. 
Pahitnya ialah dihina, dicaci, dimaki bahkan difitnah di medsos dan dunia nyata. Adapun manisnya bisa membantu masyarakat tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. Ikhtiar yang dalam kearifan lokal masyarakat Batak, Sumatera Utara disebut pasomal-somal ma dirim tu na denggan asa gabe bakko, membiasakan diri membantu sesama dengan kebaikan agar mendarah daging (menjadi kebiasaan).
Selain itu, bisa turut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan darul ahdi (negara kesepakatan) dari orang-orang yang ingin memecah persatuan dan kesatuan bangsa yang mengemuka dewasa ini dengan mengatasnamakan agama. Manis yang lain, ialah bisa menjaga ulama. 
Generasi Cinta Ulama dan Indonesia
Rasulullah SAW bersabda: Akan datang suatu masa kepada ummatku di mana mereka lari dari para ulama dan fuqoha, maka Allah akan menurunkan tiga macam musibah kepada mereka, yaitu, menghilangkan berkah dari rizki mereka, menjadikan penguasa yang zalim untuk mereka dan mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman. 
Pertumbuhan anak-anak muda Indonesia bergabung dengan Ansor dan Banser bisa dikatakan luar biasa. Dalam sebulan, berkisar 1.000 hingga 2.000 orang mengikuti kaderisasi yang terkesan tak masuk akal di zaman now (sekarang).
Untuk mengikuti kaderisasi dasar organisasi berdiri 24 April 1934 di Banyuwangi, Jawa Timur itu, mereka rela merogoh kantong pribadi, antara Rp50 hingga Rp150 ribu walau di beberapa daerah ada yang gratis, digunakan untuk konsumsi saat kaderisasi berlangsung tiga hari hingga kebutuhan kaus. 
Tapi itulah manifestasi cinta yang membutuhkan pengorbanan. Jika ada yang bertanya tentang cinta sesungguhnya, ujar Ketua PC GP Ansor Musirawas, Efran Heryadi, maka bergabung bersama Ansor Banser merupakan satu manifestasi dari cinta sesungguhnya.
"Ya, cinta yang sebenar-sebenarnya. Menjadi kader Ansor Banser tak digaji, tak pula memiliki pangkat. Bahkan, pakaian seragam pun beli dengan uang sendiri," ujar Efran lagi.
Tapi bagi mereka hal itu ialah berkah tersendiri. Eko Sujarwo, warga Desa Tanjung Kurung, Kecamatan Kasui, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung menegaskan beruntung mengikuti kaderisasi Banser. Selain mendapatkan motivasi dan wawasan baru, pedagang dan petani kopi itu mengaku bertambah saudara. 
Alhamdulillah, NU membawa berkah untuk saya. Terima kasih kepada instruktur-instruktur yang telah membagi ilmu kepada saya dan sahabat yang lain,” kata dia seraya menegaskan keimanannya juga semakin meningkat setelah mengikuti kaderisasi Banser.
Taqwa kepada Allah merupakan Nawa Prasetya Banser yang pertama. Selain itu, juga perilaku yang harus dilaksanakan setiap kader inti Pemuda Ansor, sejalan sila Pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa. Dia-lah Allah, Yang Maha Esa dalam QS Al-Ikhlas ayat 1.
Kaderisasi Ansor mengutamakan kualitas dan perubahan. Dari tak baik menjadi baik. Dari baik menjadi kian baik. Ansor mendorong generasi muda abhantal ombha’ asapo’ angen, abhantal syahadad asapo’ iman. Berbantal ombak berselimutkan angin (di mana saja berada), berbantal syahadat berselimutkan iman dalam kearifan lokal masyarakat Madura.
Kasatkornas Banser H Alfa Isnaeni bahkan menegaskan Banser ialah pesantren kedisplinan diri, pesantren bela negara, pesantren penjaga Pancasila, pesantren untuk mendulang dan menebar amaliah Nahdlatul Ulama dalam kerangka Aswaja.
Karena itu, setiap kader harus berusaha memantaskan, mematutkan diri dengan apa yang dilakukan kiai-kiai NU. “Setelah memantapkan niatan itu, terus dan teruslah beribadah kepada Allah,” tegas pria kelahiran Tulungagung, Jawa Timur itu. 
Kaderisasi Banser juga tak mengajarkan kebencian hingga hasut yang merupakan penyakit hati. Raja Ali Haji dalam Gurindam 12 menulis: Hati ialah kerajaan di dalam tubuh. Jikalau zalim segala anggotapun rubuh. Apabila dengki sudah bertanah. Datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Pasal empat Gurindam 12 itu mengajak masyarakat memahami sabda Rasulullah SAW: Jauhilah olehmu sekalian sifat dengki, karena dengki itu memakan kebaikan seperti api melalap kayu bakar. (HR. Abu Dawud). 
Raja Ali Haji, ulama, sejarawan, dan pujangga abad 19 keturunan Bugis dan Melayu itu cerdas mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam budaya lokal. Pendekatan pada masyarakat yang hari ini disebut Islam Nusantara oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan dilaksanakan badan otonomnya seperti Ansor untuk syiar Islam di Indonesia yang multikultur.
Ijtihad Untuk Islam
Pepatah petitih Sumatera Barat menyebut, capek kaki ringan tangan, capek kaki indak panaruang, ringan tangan bukan pamacah. Sifat pemuda-pemudi yang terpuji dan dikehendaki oleh adat dan agama, yakni tangkas dan kesatria tetapi tak melampaui kesopanan.
Masyarakat menerima bantuan sembako dari kader-kader muda NU di Tugu Mulyo berterimakasih dan bersyukur. 
“Mereka menilai kegiatan kami lakukan menyentuh masyarakat secara langsung. Suatu bentuk kepedulian pada mereka dengan berbagi makanan layak komsumsi,” ujar Yossie lagi. 
Menyaksikan berkali-kali anggota Banser yang tegas, berani, menarik dalam pergerakan positif, juga membuat Anggi Nurbayanti, warga Desa Marga Sakti, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musirawas, tertarik untuk bergabung.
Alumni D3 Kebidanan, Universitas Aisiyah Yogyakarta 2014 tersebut kepincut dan bergabung dengan Banser yang selalu ada dalam kegiatan menyangkut keagamaan dan NKRI. 
Adapun alasan Ketua Umum Korp Pergerakan Mahasiswi Islam Indonesia (PMII) Putri Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Sumatera Selatan, Tri Amanah bergabung Denwatser ialah untuk meningkatkan kapasitas diri menjadi wanita tangguh, cerdas, dan militan yang ingin berperan membela NKRI dengan ikhlas. 
17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia setelah 350 tahun lebih mengalami penjajahan dari berbagai bangsa, Portugis, Belanda, Jepang.
NU telah menerima Pancasila sebagai ideologi Indonesia yang kelahirannya diperingati setiap 1 Juni sebagai dasar negara yang tak bertentangan dengan agama. Sikap tersebut dirumuskan dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo, Jawa Timur, 1984.
Sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia bagi masyarakat Jawa senafas dengan rukun agawe santosa, crah agawe bubrah (kerukunan selalu membuat sentosa, bercerai berai akan selalu menimbulkan perpecahan). Sila dan peribahasa itu sejalan QS Ali Imran ayat 103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Sejalan pula dengan QS Al Hujuraat ayat 13, yang menegaskan penciptaan laki-laki dan perempuan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.
Masyarakat Bugis, Makassar, memiliki istilah tudang sipulung, secara harfiah berarti duduk bersama guna mencari solusi atas permasalahan permasalahan mereka hadapi. Kearifan lokal itu sebagaimana sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan, sejalan dengan QS Asy Syuura ayat 38. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka. 
Lantas sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Adil Ka’ Talino, bersikap adil terhadap sesama manusia dalam istilah masyarakat Dayak, Kalimantan. Sejalan dengan QS An Nahl ayat 90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. 
Di zaman now yang serba instan dan segala sesuatu kerap dinilai dengan sesuatu yang materiil, bergabung dengan Ansor atau Banser terkesan tak rasional, namun juga rasional ditinjau dari sisi lain. Tak rasionalnya adalah generasi muda dari beragam suku berani digembleng keras untuk tak mendapatkan gaji, siap bertugas dengan ikhlas dan penuh pengabdian. Suatu kelangkaan di zaman now.
Rasionalnya ialah, generasi muda yang ingin bergabung dengan Ansor Banser sadar,  Indonesia warisan kemanusiaan setiap pahlawan dan pejuang bangsa yang harus dijaga. Dan itulah ijtihad (usaha sungguh-sungguh) dan nyata warga negara yang memiliki tanggung jawab pada negaranya.
Tujuanlah yang membuat semua itu terjadi. Jika orientasinya anggaran, sangat bisa dipastikan tak akan ada generasi muda tertarik mengikuti kaderisasi Ansor Banser, menjaga pengajian demi pengajian tanpa gaji.
Tujuan untuk ikut serta membangun bangsa dan negara dengan karakter keislaman, kebangsaan, kerakyatan dan kepemudaanlah yang membuat generasi muda jatuh hati untuk berhimpun di Ansor, di Banser, mendedikasikan diri bagi kemanusiaan, agama, negara dan bangsa. 
Hal itu yang membuat Ansor Banser menolak keras kelompok-kelompok yang menggunakan pengajian untuk melakukan agitasi dan provokasi yang memecah belah umat. Kenapa bukan mendorong gerakan niaga seperti dilakukan Nabi Muhammad SAW? Kenapa bukan pula perihal menjaga masa depan lingkungan hidup Indonesia agar sejalan dengan QS Ar Ruum ayat 41? Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2017 menyebut 2.175 kejadian bencana di Indonesia. Dari data itu, 99,08 persen merupakan bencana ekologis.
Diviralkan atau tidak, GP Ansor akan terus berijtihad menyuplai generasi muda yang dekat dan mencintai ulama dengan kontinu serta NKRI, negara yang sah menurut hukum Islam. 
Merujuk Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 diserukan KH Hasyim Asyari, mempertahankan dan menegakkan NKRI menurut hukum Agama Islam adalah wajib, termasuk sebagai satu kewajiban bagi tiap-tiap muslim, dan jihad fi sabilillah.
Sebagai organisasi kepemudaan dan keagamaan, Ansor telah membuktikan diri, mendekatkan ribuan generasi muda dengan Islam, ulama, anti hasut dan mengedepankan tabayun seperti diharapkan Rasulullah untuk menjaga warisan kemanusiaan bernama Indonesia yang multikultur. 
Dalam Gurindam 12 pasal yang lain, Raja Ali Haji kembali mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam bahasa lokal. Jika hendak mengenai orang berbangsa. Lihat kepada budi dan bahasa. Apabila perkataan yang amat kasar. Lekaslah orang sekalian gusar. Apabila pekerjaan yang amat benar. Tidak boleh orang berbuat onar. Siapa tidak setuju?
(Gatot Arifianto-Penulis Gusdurian. Asinfokom Satkornas Banser)

Selasa, 03 April 2018

Banser Tersenyumlah

Tulisan KH Ubaidillah Shodaqoh, Rais Syuriah PWNU Jateng

Aku harus bisa membalas dendamku pada BANSER. Begitu dalam benakku. Bagaimana tidak ?

Sebagai tamu VVIP setelah usai acara semuanya dimohon untuk bersama-sama naik mobil van ke tempat transit. Nah karena tempat transit ke arah jalanku pulang maka aku drive sendiri gerobagku.

Jalan sesak dengan khayalak. Mobil van rombongan telah melaju jauh karena pengawalan. Sayapun terlambat sementara tamu-tamu lainnya telah makan-makan dan beramah tamah. Dan tentu ada yang menanyakan keberadaanku.

Sampai di transit saya tidak boleh masuk oleh seorang BANSER penjaga. Mungkin karena melihat potonganku yang tidak pantas berkumpul sama kyai-kyai. Okelah kang Banser tunggu pembalasanku. Undangan VVIP mau ikut makan-makan kok tidak boleh.

Ha ha ha kebetulan di kota lain mengundang saya sebagai key NOT speaker. Sampai di depan gedung tempat acara, aku membuka pintu mobil sengan menyulut sigarette. Langsung aku bergabung dengan BANSER-BANSER, bertanya dan bercerita ini itu. Padahal forum sudah menunggu kedatanganku.

Salah seorang panitia yang juga seorang kyai keluar, mungkin sengaja mengecek kedatanganku. Melihat saya duduk-duduk di kerumunan BANSER Kyai itupun mempersilahkan ku segera masuk ke forum. Namun saya dengar kyai itu marah sama banser. " disuruh jaga menunggu kedatangan key NOT speaker" malah dibiarkan duduk di bawah pohon"

Ha ha rasain loe dimarahi kyaimu. Bukankan manusia yang kamu takuti hanya kyai. Ya ..di kota S saya dikerjain oleh mereka kini di lain kota aku bisa mengerjaimu. Namun saya kasihan juga, sudah berkeringat mengatur parkir setelah selesai malah kena marah.

Ya dimana ada sholawatan di situ ada BANSER ,  DImana ada pengajian disitu ada Banser. Dimana ada bencana disitu ada Banser. Dimana ada pertemuan para kyai pasti ada BANSER. Bahkan dalam acara kenduren sunatanpun ada BANSER.

Serasa mustahil bin mustahal BANSER membubarkan pengajian. Tidak ada sejarahnya BANSER berbuat sekeji itu. Tentu kecuali kekejian yang berkedok pengajian yang dibubarkan BANSER. Propaganda anti NKRI, menghasut umat untuk bertengkar, ajakan merobohkan rumah bangsa dengan dibungkus pengajian itulah yang barangkali dibubarkan oleh BANSER. Toh sudah berkoordinasi dengan aparat tentu.

Bagi BANSER cemohan dan ejekan dianggap cemilan. Andai seluruh pengamat di Jakarta mencacinya mereka tetap akan enjoy dengan kostumnya. Andai seluruh medsos membulinya mereka tetap patuh pada arahan kebijakan kyai2 lewat ANSOR dan komandannya. Jangankan cuman dibuly...keluargapun dipertaruhkan demi Islam Ahlussunnah wa aljamaah.

Semestinya mudah menciutkan nyali banser. Suruh para kyai kompak memarahinya. Suruh guru2 mereka mengecamnya. Kalau sekedar tweet (ocehan) intelektual tukang malah bagai jamu bagi mereka. La kok tidak.? Gotri besi saja dimakan kalau disuruh gurunya.

Mereka adalah sosok-sosok "sami'na wa atho'na". Meskipun dalam suatu pidato tidak pernah diucapkan : " al mukarromun yang terhormat para banser ". Meskipun tidak pernah diminta cipika cipiki. Meskipun tidak dicium tangannya.

Bagi mereka bukan tulisan, catatan dan penilaian komentator yg diperhitungkan. Hanya catatan RAQIB ATID yg mereka takuti.

Kalau saya mah tidak takut pada mereka, tapi takut dengan doa anak2 istri yg mereka tinggalkan dalam rangka menjaga dan mengamankan syiar islam ahlussunnah waljamaah. Kalau mereka saya lecehkan bagaimana kalau anak2 , istri2 dan guru2 mereka marah dan tidak terima,  lalu saya diadukan pada Gusti Alloh swt ?

Allohu ya'shimukum wa wayusahhilu umuro maisyatikum wa yaabalu a'malakum.

Apa Itu GP ANSOR?

Sejarah lahirnya GP Ansor tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kelahiran dan gerakan NU itu sendiri. Tahun 1921 telah muncul ide untuk mendirikan organisasi pemuda secara intensif. Hal itu juga didorong oleh kondisi saat itu, di mana-mana muncul organisasi pemuda bersifat kedaerahan seperti, Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, Jong Celebes dan masih banyak lagi yang lain.
Dibalik ide itu, muncul perbedaan pendapat antara kaum modernis dan tradisionalis. Disebabkan oleh perdebatan sekitar tahlil, talkin, taqlid, ijtihad, mazhab dan masalah furuiyah lainnya. Tahun 1924 KH. Abdul Wahab membentuk organisasi sendiri bernama Syubbanul Wathan (pemuda tanah air). Organisasi baru itu kemudian dipimpin oleh Abdullah Ubaid (Kawatan) sebagai Ketua dan Thohir Bakri (Peraban) sebagai Wakil Ketua dan Abdurrahim (Bubutan) selaku sekretaris.
Setelah Syubbanul Wathan dinilai mantap dan mulai banyak remaja yang ingin bergabung. Maka pengurus membuat seksi khusus mengurus mereka yang lebih mengarah kepada kepanduan dengan sebutan “ahlul wathan”. Sesuai kecendrungan pemuda saat itu pada aktivitas kepanduan sebagaimana organisasi pemuda lainnya.
Setelah NU berdiri (31 Januari 1926), aktivitas organisasi pemuda pendukung KH. Abdul Wahab (pendukung NU) agak mundur. Karena beberapa tokoh puncaknya terlibat kegiatan NU. Meskipun demikian, tidak secara langsung Syubbanul Wathan menjadi bagian (onderbouw) dari organisasi NU.
Atas inisiatif Abdullah Ubaid, akhirnya pada tahun 1931 terbentuklah Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama (PPNU). Kemudian tanggal 14 Desember 1932, PPNU berubah nama menjadi Pemuda Nahdlatul Ulama (PNU). Pada tahun 1934 berubah lagi menjadi Ansor Nahdlatul Oelama (ANO). Meski ANO sudah diakui sebagai bagian dari NU, namun secara formal organisasi belum tercantum dalam struktur NU, hubungannya masih hubungan personal.
Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) dari situasi ‘’konflik'’ internal dan tuntutan kebutuhan alamiah. Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, dan pembinaan kader. KH Abdul Wahab Hasbullah, tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam.
Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab ,yang kemudian menjadi pendiri NU membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).
Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab (ulama besar sekaligus guru besar kaum muda saat itu), yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut. Gerakan ANO (yang kelak disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).
Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Hubungan ANO dengan NU saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh. Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam (tanggal 24 April itulah yang kemudian dikenal sebagai tanggal kelahiran Gerakan Pemuda Ansor).
Dalam perkembangannya secara diam-diam khususnya ANO Cabang Malang mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut BANSER (Barisan Serbaguna). Dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937. Di Kongres ini, Banoe menunjukkan kebolehan pertamakalinya dalam baris berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor TNI Hamid Rusydi, tokoh yang namaya tetap dikenang dan bahkan diabadikan sebagai salah satu jalan di kota Malang.
Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah didirkannya Banoe di tiap cabang ANO. Selain itu, menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal Banoe.
Pada masa pendudukan Jepang organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh pemerintah kolonial Jepang termasuk ANO. Setelah revolusi fisik (1945 – 1949) usai, tokoh ANO Surabaya, Moh. Chusaini Tiway, melempar mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO. Ide ini mendapat sambutan positif dari KH. Wachid Hasyim – Menteri Agama RIS kala itu, maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor, disingkat Pemuda Ansor (kini lebih pupuler disingkat GP Ansor).
GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikan rupa menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa. Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus Banser (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.
Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional. Saat ini GP Ansor diketuai oleh Gus Yaqut Cholil Qoumas masa khidmat 2015-2020.

Sumber : Wikipedia.com

PKD ANSOR dan DIKLATSAR BANSER PAC GP ANSOR Margorejo



Memperkuat kaderisasi, Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Diklatsar Banser. Kegiatan penerimaan anggota baru yang dilaksanakan di kompleks TPQ Baitussalam Bumirejo, Kecamatan Margorejo baru pertama kali yang dilaksanakan oleh GP Ansor Kec. Margorejo sebelumnya juga telah dilaksanakan di Desa Banyuurip dari PC GP Ansor Pati. Kegiatan tersebut diikuti 30 peserta untuk PKD Ansor dan 40 untuk Diklatsar Banser.
Ketua GP Ansor Margorejo Edi Fitriyanto menjelaskan, kegiatan tersebut digelar sebagai ajang kaderisasi dan memberikan pemantapan SDM serta menanamkan jiwa nasionalisme, keislaman dan komitmen untuk turut menjaga NKRI dari berbagai ancaman baik dari dalam maupun dari luar.
“GP Ansor dan Banser akan menjadi garda paling depan sebagai organisasi pemuda untuk menjaga Pancasila dan NKRI,”ucapnya kepada Lingkar Jateng, kemarin.
Kegiatan tersebut berlangsung selama 3 hari, peserta akan mendapatkan berbagai macam materi dan fisik. Materi-materi tersebut menjadi acuan dan bekal anggota baru untuk menjalankan tugas-tugas organisasi kedepan.
Untuk menjadi kader GP Ansor dan Anggota Banser, sambung Edi, harus memiliki kualitas kepemimpinan dan menejemen yang baik.
Upacara pembukaan acara itu dihadiri oleh Forkompimcam, Ulama NU Margorejo dan Pengurus Cabang GP Ansor Kabupaten Pati.
“GP Ansor Margorejo siap menyumbang kader-kader terbaik, untuk menjadi pemimpin masa depan yang toleran dan berakhlakul karimah,”cetus Edi.
Terpisah, Kasatkorcab Banser Pati, Ahmad Imam Syafi’i mengatakan, PKD dan Diklatsar akan terus digelar diseluruh wilayah pati.
“Saat ini kami telah memiliki kurang lebih 4000 personel banser aktif dan akan terus bertambah,”tandasnya.(po/PO/MK)
Sumber : humas.patikab.go.id

Cegah Intoleransi, Polsek Margorejo Pati dan Ansor Margorejo Melaksanakan Penggalangan Terhadap Tokoh Agama

Tribratanews.jateng.polri.go.id, Pati – Untuk mempererat kerukunan antar umat beragama dan mencegah intoleransi antar umat beragama serta mempertahankan rasa kebhinekaan, Polsek Margorejo Pati beserta jajarannya berilaturahmi dengan beberapa tokoh agama di wilayah Kecamatan Margorejo.
Seperti yang dilaksanakan pada hari Senin siang tanggal 15 Mei 2017 pkl 08.30 WIB, Kapolsek Margorejo Pati Akp Eko Pujiyono beserta Danramil Margorejo Kapten Sriyono Polsek Kanit Intelkam dan Kanit Bimas Polsek Margorejo melaksanakan Penggalangan terhadap pimpinan Pondok Pesantren Al Ikhlas bpk. H Mohammad Anwar dan Ketua GP Ansor Kec. Margorejo Sahabat Edy Fitriyanto.
Dari hasil pertemuan tersebut diperoleh keterangan bahwa Pondok pesantren Al Ikhlas dan maupuni GP Ansor Kec. Margorejo tidak ada rencana untuk melaksanakan kegiatan aksi obor untuk meredam aksi lilin, serta ikut menjaga situasi wilayah Margorejo agar tetap Kondusif.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Pati Akbp Maulana Hamdan, SIK melalui Kapolsek Margorejo Akp Eko Pujiyono menyampaikan pesan bahwa bahwa situasi kamtibmas akan tercapai bila ada sinergi semua komponen dalam masyarakat.  Dalam pertemuan tersebut sebagai tokoh agama sanggup dan bersedia untuk membantu pihak Kepolisian dengan mengajak umat untuk menjaga situasi wilayah Winong agar tetap kondusif di Kecamatan Winong.
“Bila ada informasi diharapkan untuk disampaikan kepada Kapolsek dan kepada anggota Polsek atau babhinkamtibmas,” Imbuh Kapolsek.
Sumber : Humas Polres Pati

Rakerancab dan Sarasehan PAC GP ANSOR Margorejo

GP Ansor Kecamatan​ Margorejo adakan Sarasehan dan Rapat Kerja

Jarinfo.com, PATI - Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati telah melaksanakan kegiatan Sarasehan dan Rapat kerja di Pondok Pesantren Al Ikhlas alamat Desa Sukobubuk Kecamatan Margorejo. Jum'at (28/4/2017) pukul 14.00 s/d 16.30 wib.
Hadir dalam kegiatan Muspika kecamatan Margorejo, Ketua MWCNU Margorejo yang di wakili KH. Ahmad Lazim, Ketua PC Ansor Kabupaten Pati Imam Rifai, Ketua PAC Ansor Kecamatan​ Margorejo Edi Fitrianto beserta Anggotanya, Kepala Desa Sukobubuk Saman beserta perangkat desanya dan Ketua Panitia Karnoto, kurang lebih 50 orang tamu undangan.
Acara Sarasehan dan Raker PAC GP Anshor dan Satkoryon Banser Margorejo yang bertema "Meningkatkan Ghirrah gerakan pemuda dalam mengawal tradisi Ahlussunnah Wal Jamaah" yang disampaikan Bp. Mahfud S.Th. I :
-- Tafaqquh Fiddin
Adalah semangat pergerakan yang didasarkan pada pengasahan kemampuan dan ketajaman intektual para anggota GP Ansor dan Banser, dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia seutuhnya di seluruh fan (cabang) ilmu pengetahuan.
-- Iltizamut tho'at
Semangat pergerakan Pemuda Ansor Banser Margorejo yang didasarkan ketaatan kepada;
a. Allah SWT selaku pencipta, pembimbing dan pencipta manusia.
b. Baginda Rosulullah Muhammad SAW, selaku pembawa risalah kebenaran dan panutan umat manusia.
c.Ulil Amri, yaitu ulama' dan umara'
-- Tashfiah Al-Qalb wa Tazkiyat Al-Nafsi
Semangat Ansor Banser Margorejo bergerak yang didasarkan upaya pembersihan  dan pensucian diri, lahir bathin dari segala bentuk sifat dan perasaan yang tidak baik.
-- Hifdz al-aurad wa al-adzkar.
Semangat Ansor Banser Margorejo yang didasarkan atas upaya menjaga keseluruhan waktunya untuk mendatangkan kemanfaatan, sebagai ibadah kepada Allah SWT.
-- Khidmah lil-ummah
Semangat Ansor dan banser margorejo untuk memberikan darma bhakti kepada umat manusia, kepada Bangsa dan Negara sebagai wujud pengabdian kepada Allah SWT.

Kedepan di harapkan GP Ansor Kecamatan Margorejo selalu mengisi kegiatan sosial, keagamaan dalam kehidupan di masyarakat, bersama-sama dengan instansi pemerintahan dan TNI/Polri untuk saling bekerjasama dan saling berkoordinasi dalam menjaga keamanan dan keutuhan NKRI serta jangan mudah terpengaruh dan terprovokasi oleh isu isu atau berita hoax. (Andi)
Sumber : Jarinfo.com